Music
Payung Teduh - Dunia Batas
- Category: Music
- Created on Wednesday, 01 August 2012 16:47
- Written by Annisa Nadzirani Thaib
- Hits: 420
Kalau boleh ‘menghakimi’ sebuah kelompok musik atas namanya, maka Payung Teduh boleh dituduh sebagai pembuat lagu-lagu tenang dan menenteramkan.
Dunia Batas, album kedua mereka, dengan produser Mondo Gascaro membuktikan semua itu. Delapan lagu bertempo pelan, beberapa sedang, membawa rasa lemah lembut dan santun. Ada bingkai Indonesiana tahun ’60-an dari irama keroncong di “Angin Pujaan Hujan”, single pertama dari Dunia Batas yang memasang bagian guitalele solo maut. Ada rasa nglangut dari melodi dan vokal Is yang empuk dan memikat.
Dan ada rasa sayu dari himpunan gitar akustik, contra bass dan cajon, paling jelas termuat di intro “Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan”, apalagi disambung de-ngan lirik maut “Hanya ada sedikit bintang malam ini/Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya”. Payung Teduh terdiri dari Is (vokal/gitar/guitalele, drum), Ivan (gitar, guitalele, vokal latar), Cito (drum, cajon), dan Comi (contra bass), yang awalnya terbentuk karena dua personelnya menjadi musisi di Teater Pagupon, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Kuartet ini terasa betul bermain dengan nyaman, seperti menguji pendengar baru untuk menikmati dengan telaten lagu-lagu bertempo pelan.
Payung Teduh juga cukup berhasil dengan liriknya yang seperti berpuisi: “Harum mawar membunuh bulan” atau “Ada yang mati menunggu sore menuju senja”. Walau ada pula lirik yang gelagatnya terlalu digarap hingga tak terasa lentur lagi. Di atas semua itu, Payung Teduh dan Dunia Batas jadi sumbangan yang membesarkan hati untuk musik Indonesia.
Sumber : Rollingstone.co.id
Comments:
