|
|
|
Apa yang harus saya lakukan? |
|
|
|
|
Monday, 07 May 2007 |
Pertanyaan dari Mira, 33 Tahun
Saya adalah marketing manager dari salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Saya kebetulan baru bekerja 2 tahun di perusahaan ini, sementara bawahan saya rata - rata sudah bekerja selama lebih dari 5 tahun. Walaupun saya termasuk orang yang paling baru di perusahaan ini, Selama 2 tahun ini saya bekerja, semuanya berjalan lancar - lancar saja. Sampailah pada 1 bulan terakhir ini, beberapa bawahan mengkritik kinerja pekerjaan saya. Mereka bilang, hal itu dapat membuat kinerja perusahaan juga semakin menurun. Padahal saya merasa semua baik - baik saja. Saya mencoba untuk mencerna dengan benar kritikan dari mereka, karna saya tidak ingin mereka subyektif dalam mengkritik saya. Yang harus saya ketahui, dia benar-benar mengkritik saya untuk kemajuan perusahaan atau karna dia tidak menyukai saya karna masalah pribadi, dan bertujuan untuk menjungkalkan saya ? Apa yang harus saya lakukan Mas Alex ?
Terima Kasih.
Jawaban dari Alexander Sriewijono, Penulis Career Handbook dan Founder Daily Meening
Cosmoners, ini agak berat tapi sering sekali terjadi. Soal menyampaikan kritikan mungkin sudah biasa, tetapi bagaimana pada saat anda yang harus menerima kritikan, apalagi di saat posisi anda sebagai atasan. Indonesia adalah Negara yang power distance nya cukup besar menurut Geertz Hofstede, Ahli sosial dan budaya dari Belanda. Yang kemudian membuat orang - orang dalam posisi yang diatas, "siapa loe berani - berani nya ngritik gue ?". Sehingga kemudian anak buah juga kadang - kadang serba salah pada saat harus menyampaikan kritikan.
Nah bagaimana anda bisa menerima kritikan, yang sebetulnya bisa memberikan manfaat untuk kita dan tim kita. Yang pertama, mungkin saya setuju kalau istilah kritikan diganti dengan umpan balik atau feed back, bahkan beberapa dari anda sudah mengganti istilah tersebut dengan kata - kata feed forward. Karna tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik yang orientasinya lebih untuk perbaikan ke depan. Yang kedua, yang paling essential adalah anda harus memisahkan antara ego kita sebagai pribadi dan masalah itu sendiri.
Kritikan, kalo anda bisa melihat inti permasalahannya, dan tidak usah berhubugnan ke masalah pribadi kita, sebetulnya anda akan lebih matang, bijaksana dan cool sebagai seorang atasan. Biasanya kritikan itu sangat tidak bisa kita terima, pada saat pribadi kita merasa terserang. Kalo kemudian anak buah cara menyampaikannya salah, atau kemudian perlu di challenge kembali sudut pandangnya, lakukanlah secara obyektif, jangan kemudian membawa - bawa kepada masalah pribadi. Selesaikan atau bicarakan dulu masalahnya yang berkaitan dengan pekrejaan, sesudah itu lakukanlah coaching. "Kalo misalnya dirimu menyampaikan feed back untuk perbaikan kerja saya sangat terbuka sebagai atasan". Tetapi kalo boleh anda mengajukan kritik dengan data - data yang lebih bisa membuat kita melihat sisi dari kritikan anda, dan kemudian sampaikanlah dengan tata bahasa yang lebih dewasa.
Anda melakukan proses coaching kepada caranya dia mengkritik, tetapi sesudah kritikan itu kemudian dibahas esensinya, itu anda benar - benar bisa menjadi atasan yang bijaksana dan matang. Dan ingat cosmoners, bahwa yang namanya menerima kritikan, itu sebetulnya sebagai satu masukan untuk perbaikan ke depan. Dan pisahkan masalah pribadi anda. Sesederhana itu, tetapi butuh waktu dan proses untuk bisa melakuannya dengan baik.
Cosmoners, sukses terus untuk karir anda.
|
|
Last Updated ( Monday, 02 July 2007 )
|
|
|
|