Kasus 3 Email dari Dewita
Written by Admin on Friday, 20 November 2009 09:43   

Saya mau tanya nih sama Mas Alex, saya Dewita dan saya bekerja pada sebuah perusahaan pemerintah di Jakarta sebagai Kepala Bagian Administrasi. Ketika di angkat menjadi Kepala Bagian, para teman sejawat memberi nasihat untuk mengikuti saja alur kerja yang sudah ada dari sananya. Selama menjabat selama 4 bulan, saya menemukan bahwa bawahan saya dan rekan kerja saya bekerja dengan sangat lambat (menurut saya), sedangkan saya adalah orang yang terbiasa kerja cepat dan efisien. Saya ingin melakukan perubahan, tapi terbentur corporate culture yang sudah tertanam kuat di semua karyawan. Apa yang bisa saya lakukan Mas Alex?

Jawab

Dewita, Bravo. Saya sangat senang ada orang-orang seperti dirimu, dimanapun, siapapun yang kemudian menjadi pendobrak untuk sesuatu yang lebih baik, layak untuk kita bilang Bravo! Sekarang tinggal bagaimana cara melakukannya. Ada poin-poin yang ingin digaris bawahi:
    Satu, pada saat kamu bilang teman saya kerja lambat, sementara kamu kerja cepat dan efisien, kalau kita lihat apakah ini mana yang betul mana yang salah masih bisa diperdebatkan, kalau orientasinya diubah pada result, cara kerja apapun sebenarnya nggak salah. Tapi kemudian kalau hasilnya pun tidak tercapai, kita perlu mempertanyakan cara kerja mana yang paling tepat, itu adalah cara melihat dan memutuskan mana yang harus diubah. Pada saat saya bilang orang kebanyakan atau mayoritas orang dan seterusnya ini membuat saya terpikir pada saat dirimu bilang terbentur pada corporate culture yang sudah tertanam kuat. Hati-hati nih, Corporate culture atau culture kebanyakan orang ini adalah 2 hal yang berbeda. Kalau memakai kata Corporate culture, kata corporate sebetulnya sudah menunjukkan bahwa itu adalah sesuatu yang formal culture yang memang sudah dinyatakan sebagai culture yang memang harus ada dan dipertahankan. Itu adalah arti dari Corporate culture secara formal, tapi kalau saya tangkap dari kalimat mu berarti adalah budaya yang sudah mendarah daging dari orang-orang yang sudah ada disana, itu dua hal yang beda. Jadi sekarang tinggal dilihat dari tingkat kewenangan dan power yang ada pada diri Dewita untuk menentukan apa yang akan kamu lakukan dalam situasi seperti ini akan dibuktikan kewenangan kamu, dan menurut saya kalau itu tidak lewat hasil dan untuk menjadi perbaikan bersama, tidak ada salahnya untuk dicoba. Memang menjadi effort yang lebih besar, kalau tingkat penolakannya juga besar dari lingkungan dimana orang melakukan dengan cara sangat berbeda dengan yang kita pikir apa yang seharusnya, tapi kenapa tidak kalau Dewita bisa menjadi bagian dari proses perubahan yang memang perlu dilakukan.
 

Login

You can sign up using your facebook account by clicking facebook button bellow
or you can Login using your username and password

The Broadcaster Project


PopUp MP3 Player (New Window)
Segera dapatkan album "The Broadcasters Project - The Voice of Indonesian Broadcasters", di toko-toko cd terdekat atau di Gedung Sarinah Thamrin Lantai 8, Jakarta Pusat.
Copyright@2009 Cosmopolitanfm.com. Developed by Arried